Pojok MPR-RI

Gus Jazil: Perlu Arahan Guru Agar Siswa Bijak Gunakan Medsos

Media sosial ibarat dua sisi mata pisau yang bisa menimbulkan dampak positif di satu sisi, dan dampak negatif di sisi lainnya.
Oleh:
Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 2 Menit
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid di SMA Bina Putera. Foto: Istimewa.
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid di SMA Bina Putera. Foto: Istimewa.

SERANG – Penyebaran berita hoaks (palsu), fitnah dan ujaran kebencian di medsos dalam beberapa tahun belakangan semakin marak. Karena itu kita harus mampu menyaring informasi dan menggunakan medsos dengan baik. Demikian diungkapkan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid saat melakukan sosialisasi 4 Pilar MPR di SMA Bina Putera, Kopo, Serang, Banten, Jumat (8/10/2021).

Dikatakan Gus Jazil, sapaan akrab Jazilul, para guru di sekolah juga harus memberikan pengajaran literasi digital kepada para anak didik soal bagaimana menggunakan teknologi informasi, khususnya medsos dengan baik. ”Bagaimana mereka bisa memilah informasi palsu, hoak, dan yang produktif bagi anak-anak. Ini perlu pengarahan dari para guru,” katanya.

Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan bahwa medsos ibarat dua sisi mata pisau yang bisa menimbulkan dampak positif di satu sisi, dan dampak negatif di sisi lainnya. ”Kita harus arahkan agar anak-anak bisa menjadikan medsos ini sesuatu yang positif. Sebab, saat ini anak muda dimana saja semua menggunakan medsos. Kita perlu bimbing penggunaannya, dan konten-konten seperti apa yang layak untuk dibuka,” urainya.

Di depan para siswa SMA Bina Putera, Gus Jazil juga mengatakan bahwa 4 Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 merupakan pilar-pilar penyangga negeri ini. ”Kalau 4 Pilar ini roboh atau salah satu roboh maka Indonesia juga roboh. Tugas kita bersama agar 4 Pilar ini diperkuat. Pancasila mengandung nilai-nilai dan menjadi pandangan hidup, tapi belum tentu kita bisa dalam implementasinya,” katanya.

Gus Jazil juga mengatakan bahwa perasan dari Pancasila adalah gotong royong. ”Gotong royong ini pelan-pelan mulai kita lupakan, sudah kita ganti dengan kata ‘demokrasi’. Gotong royong seakan-akan hanya kerja bakti. Padahal gotong royong adalah kalimat keramat yang dimiliki bangsa ini dan bisa menyatukan pandangan agama, suku bangsa, adat istiadat dalam satu kata yakni gotong royong. Ini inti kehendak dan cita-cita bangsa,” tuturnya.

Dikatakan Gus Jazil, sering kali antara agama dengan negara atau antara Islam dengan Pancasila dibentur-benturkan. Padahal ini sesuatu yang sudah menyatu. ”Tinggal kita wujudkan dalam gerak hidup kita sehari-hari, dalam aktivitas kita, dalam kita membangun hubungan dan mewujudkan apa yang kita cita-citakan,” urainya.

Menurut Gus Jazil, dengan berkembangnya teknologi informasi, kedepan perlu kreativitas, yakni bagaimana menyebarkan 4 Pilar melalui media digital, game, cerita, atau menggunakan gambar animasi sehingga lebih mengena kepada kalangan generasi muda. ”Bagi anak-anak ini penting daripada metode ceramah-ceramah. Dan yang tidak kalah penting metode keteladanan. Anak-anak muda ini butuh keteladanan. Siapa figur yang pancasilais? Pertama ya gurunya karena anak-anak mencontoh gurunya. Dan para guru mencontoh pemimpinnya,” katanya.

Dirjo, kepala SMA Bina Putera mengatakan, upaya peningkatan literasi digital juga terus dilakukan di sekolahnya agar para siswa bisa memilah informasi yang layak untuk dicerna. ”Kita terus melakukan peningkatan literasi digital. Kita selalu tekankan guru-guru agar bisa mendampingi mereka,” tuturnya.