Profesi Hukum

Ini Perbedaan Calon Hakim Agung Karier dengan Non Karier

Bacaan 8 Menit
Ini Perbedaan Calon Hakim Agung Karier dengan Non Karier

Pertanyaan

Apa bedanya calon hakim agung klasifikasi karier dengan hakim klasifikasi non karier?

Intisari Jawaban

circle with chevron up
?
Perbedaan calon hakim agung karier dengan calon hakim agung non karier antara lain dapat dilihat dari ijazah yang dimiliki dan pengalaman kerjanya, yaitu:
?
Calon hakim agung karier adalah calon hakim agung yang berstatus aktif sebagai hakim pada badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang dicalonkan oleh Mahkamah Agung dan berijazah magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum memiliki serta pengalaman paling sedikit sedikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim, termasuk paling singkat 3 (tiga) tahun menjadi hakim tinggi. Selain itu, tidak pernah dijatuhi sanksi pemberhentian sementara akibat melakukan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim.
?
Sedangkan calon hakim agung non karier adalah calon hakim agung yang berasal dari luar lingkungan badan peradilan dan berijazah doktor dan magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum serta berpengalaman dalam Profesi Hukum dan/atau akademisi hukum paling sedikit 20 (dua puluh) tahun dan tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
?
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam ulasan di bawah ini.
?

Ulasan Lengkap

 
Proses Pengangkatan Hakim Agung
 
Karena Anda menanyakan mengenai calon hakim agung, sebelum menjawab pertanyaan Anda, terlebih dahulu kami akan menguraikan mengenai proses pengangkatan hakim agung, berikut ulasannya:
 
Hakim agung diangkat oleh Presiden dari nama calon yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (“DPR”). Calon hakim agung disetujui oleh DPR dari nama calon yang diusulkan oleh Komisi Yudisial (“KY”).[1]
 
Calon hakim agung yang diusulkan oleh KY disetujui oleh DPR 1 (satu) orang dari 1 (satu) nama calon untuk setiap lowongan. Persetujuan calon hakim agung dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari sidang terhitung sejak tanggal nama calon diterima DPR. Pengajuan calon hakim agung oleh DPR kepada Presiden dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari sidang terhitung sejak tanggal nama calon disetujui dalam Rapat Paripurna.[2]
 
Setelah itu Presiden menetapkan hakim agung dari nama calon yang diajukan oleh DPR paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal pengajuan nama calon diterima Presiden.[3]
 
Kemudian untuk posisi Ketua dan Wakil Ketua Mahkamah Agung dipilih dari dan oleh hakim agung dan ditetapkan oleh Presiden. Ketua Muda Mahkamah Agung tersebut ditetapkan oleh Presiden di antara hakim agung yang diajukan oleh Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Presiden mengenai penetapan Ketua, Wakil Ketua Mahkamah Agung, dan Ketua Muda Mahkamah Agung dilakukan paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal pengajuan nama calon diterima Presiden.[4]
 
Perbedaan Calon Hakim Agung Karier dengan Calon Hakim Non Karier
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa calon hakim agung diusulkan oleh KY kemudian akan disetujui satu nama oleh DPR untuk setiap lowongan.[5] Pengusulan calon hakim agung kepada KY dapat dilakukan oleh Mahkamah Agung, Pemerintah, dan Masyarakat.[6]
 
Calon hakim agung yang diusulkan tersebut dapat berasal dari:[7]
  1. hakim karier; atau
Yang dimaksud dengan calon hakim agung yang berasal dari hakim karier adalah calon hakim agung yang berstatus aktif sebagai hakim pada badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang dicalonkan oleh Mahkamah Agung.[8]
  1. Non karier
Yang dimaksud dengan calon hakim agung yang juga berasal dari non karier adalah calon hakim agung yang berasal dari luar lingkungan badan peradilan.[9]
 
Lebih jauh lagi perbedaan antara calon hakim agung yang berasal dari hakim karier dan non karier dapat kita lihat dari persyaratan yang harus dipenuhi, yakni:
 
Calon Hakim Agung Karier[10]
Calon Hakim Agung Non Karier[11]
  1. warga negara Indonesia;
  2. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  3. berusia paling sedikit 45 (empat puluh lima) tahun;
  4. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban
  5. berijazah magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum;
  6. berpengalaman paling sedikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim, termasuk paling singkat 3 (tiga) tahun menjadi hakim tinggi; dan
  7. tidak pernah dijatuhi sanksi pemberhentian sementara akibat melakukan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim.
  1. warga negara Indonesia;
  2. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  3. berusia paling sedikit 45 (empat puluh lima) tahun
  4. mampu secara rohani dan jasmani untuk menjalankan tugas dan kewajiban;
  5. berijazah doktor dan magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum
  6. berpengalaman dalam Profesi Hukum dan/atau akademisi hukum paling sedikit 20 (dua puluh) tahun;
  7. tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; dan
  8. tidak pernah dijatuhi sanksi pelanggaran disiplin
 
Jadi menjawab pertanyaan Anda perbedaan calon hakim agung karier dengan calon hakim agung non karier antara lain dapat dilihat dari ijazah yang dimiliki, pengalaman kerja, dan sebagainya; yaitu:
 
  1. Calon hakim agung karier adalah calon hakim agung yang berstatus aktif sebagai hakim pada badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang dicalonkan oleh Mahkamah Agung dan berijazah magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum, memiliki pengalaman paling sedikit seikit 20 (dua puluh) tahun menjadi hakim, termasuk paling singkat 3 (tiga) tahun menjadi hakim tinggi. Selain itu, tidak pernah dijatuhi sanksi pemberhentian sementara akibat melakukan pelanggaran kode etik dan/atau pedoman perilaku hakim.
 
  1. Sedangkan calon hakim agung non karier adalah calon hakim agung yang berasal dari luar lingkungan badan peradilan dan berijazah doktor dan magister di bidang hukum dengan dasar sarjana hukum atau sarjana lain yang mempunyai keahlian di bidang hukum serta berpengalaman dalam Profesi Hukum dan/atau akademisi hukum paling sedikit 20 (dua puluh) tahun dan tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:
 
Putusan:
 

[1] Pasal 8 ayat (1) dan (2) UU 3/2009 jo. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 27/PUU-XI/2013
[2] Pasal 8 ayat (3), (4) dan (5) UU 3/2009 jo. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 27/PUU-XI/2013
[3] Pasal 8 ayat (6) UU 3/2009
[4] Pasal 8 ayat (7), (8), dan (9) UU 3/2009
[6] Pasal 4 ayat (3) Peraturan KY 2/2016
[7] Pasal 6B UU 3/2009 jo Pasal 4 ayat (4) Peraturan KY 2/2016
[8] Penjelasan Pasal 6B ayat (1) UU 3/2009
[9] Penjelasan Pasal 6B ayat (2) UU 3/2009
[10] Pasal 6 ayat (1) Peraturan KY 2/2016
[11] Pasal 6 ayat (2) Peraturan KY 2/2016