Hukumnya Menyimpangi Pemanfaatan Tanah Wakaf

Bacaan 8 Menit
Hukumnya Menyimpangi Pemanfaatan Tanah Wakaf
Pertanyaan
Ayah saya mewakafkan sebuah tanah dan bangunan untuk tempat tinggal pengurus masjid. Ternyata setelah beberapa lama, rumah tersebut tidak lagi ditinggali oleh pengurus masjid dan keluarganya saja, namun juga menjadi tempat berjualan (warung) dan dengan mendirikan bangunan lain untuk warung dan tempat tinggal saudara pengurus masjid yang berjualan di situ. Bagaimana hukumnya? Apakah diperbolehkan penggunaannya selain yang diperuntukan ketika akad? Dan apakah ayah saya boleh meminta sebagian keuntungan warung tersebut?
Intisari Jawaban
Agar wakaf di Indonesia memiliki kedudukan hukum yang sah, harus dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat pelaksanaan dan ketentuan wakaf sebagaimana diterangkan dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf dan perubahannya serta Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
 
Peruntukan dan pemanfaatan wakaf haruslah sesuai dengan peruntukan pada waktu pernyataan ikrar wakaf. Perubahan peruntukan hanya mungkin dilakukan oleh nazhir dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan wakif pun tidak diperbolehkan mengambil kembali harta benda tersebut dan tidak pula diperbolehkan mengambil hasil dari pemanfaatan atau pengelolaan harta benda tersebut tanpa kecuali.
 
Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.