Wasiat Wajibah untuk Anak Tiri, Bisakah?

Bacaan 7 Menit
Wasiat Wajibah untuk Anak Tiri, Bisakah?
Pertanyaan

Saya punya kakak tiri bernama D (perempuan). Kami seibu, tapi berlainan bapak. Ayah kandung D bernama A, ayah kandung saya bernama B. Ibu menikah dengan A, mempunyai D. Lalu bercerai. Ibu lalu menikah dengan B. Setelah ayah menikahi ibu (membawa D tanpa akta kelahiran), maka D ini dibuat akta kelahiran di mana tertulis bahwa B sebagai ayah kandung, padahal sebenarnya ayah tiri. Kami semua beragama Islam. Ketika B meninggal dunia, apakah D berhak mendapatkan warisan dari B berdasarkan akta kelahiran padahal B adalah ayah tirinya? Apakah D berhak mendapatkan wasiat wajibah dari B jika dianggap anak angkat? Sedangkan tidak pernah ada akta adopsi dari notaris ataupun pengesahan pengadilan mengenai anak angkat. Apa konsekuensi hukum terhadap D bila menggunakan akta kelahiran untuk menuntut warisan dari B? Terima kasih.

Intisari Jawaban

Ahli waris menurut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

Dengan demikian, anak tiri bukan termasuk ahli waris. Sedangkan mengenai wasiat wajibah, anak tiri juga bukan pihak yang berhak mendapatkannya. Sebab, wasiat wajibah menurut KHI hanyalah tertuju pada anak angkat dan orang tua angkat. Serta dalam perkembangannya, Yurisprudensi Mahkamah Agung memberikan juga wasiat wajibah kepada ahli waris yang beragama non-Islam.

Penjelasan lebih lanjut dapat Anda klik ulasan di bawah ini.