Terbaru

Cara Melacak Nomor Handphone Penipu dan Cara Melaporkannya

Cara melacak nomor handphone penipu diperlukan untuk memastikan apakah pesan atau panggilan yang dilakukan merupakan penipuan atau tidak. Berikut ulasannya.

Oleh:
Tim Hukumonline
Bacaan 4 Menit
Ilustrasi cara melacak nomor hp penipu. Sumber: pexels.com
Ilustrasi cara melacak nomor hp penipu. Sumber: pexels.com

Penipuan semakin marak terjadi di masyarakat. Modus dan caranya pun semakin beragam. Ada yang memainkan psikologi korban dengan mengaku sebagai orang terdekat, menjadi perusahaan ternama yang menawarkan hadiah besar, hingga menjadi rekan atau partner yang sedang menunggu pembayaran. Sehubungan dengan hal tersebut, penting rasanya untuk tahu cara melacak nomor handphone penipu.

Sebelum membahas cara melacak nomor handphone penipu, mari simak dulu definisi penipuan. KBBI mengartikan penipuan sebagai proses, cara, perbuatan menipu; perkara menipu (mengecoh).

Lebih lanjut, R. Sugandhi dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, mengartikan penipuan adalah tindakan seseorang dengan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, nama palsu, dan keadaan palsu dengan maksud menguntungkan diri sendiri dengan tiada hak. Rangkaian kebohongan yang dimaksud adalah susunan kalimat bohong yang tersusun sedemikian rupa yang merupakan cerita sesuatu yang seakan-akan benar.

Diterangkan R. Soesilo, seorang ahli pidana, pekerjaan seorang penipu adalah sebagai berikut.

  1. Membujuk orang supaya memberikan barang, membuat utang, atau menghapuskan piutang.
  2. Maksud pembujukan itu ialah: hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak.
  3. Membujuknya itu dengan memakai:
    • nama palsu atau keadaan palsu;
    • akal cerdik (tipu muslihat); atau
    • karangan perkataan bohong.

Jerat Pasal Penipuan melalui SMS atau Telepon

Tindak pidana penipuan diatur dalam KUHP. Lebih jelasnya, Pasal 378 KUHP menerangkan bahwa barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan menggunakan nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi utang maupun menghapuskan piutang, diancam, karena penipuan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Kemudian, apabila bentuk penipuannya dilakukan dengan transmisi elektronik (termasuk halnya menggunakan sms atau telepon) pelaku juga dapat dijerat dengan UU ITE. Hal ini sebagaimana diterangkan Pasal 28 ayat (1) UU ITE yang melarang setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hal menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik. 

Terkait tindak pidana ini, perubahan UU ITE dalam UU 19/2016 mengatur sanksi dari adanya kerugian terhadap konsumen.Pasal 45A ayat (1) UU 19/2016 menyebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Berita Terkait

Berita Populer

Berita Terbaru

Lihat Semua