Pidana

Sanksi Hukum Jika Meraba Kemaluan Orang yang Sedang Tidur

Bacaan 6 Menit
Sanksi Hukum Jika Meraba Kemaluan Orang yang Sedang Tidur

Pertanyaan

Apabila ada wanita yang tidur, ada seorang pria yang meraba-raba kemaluannya, bagaimana sanksi hukum yang bisa diberikan kepada pria tersebut?

Intisari Jawaban

circle with chevron up

Ulasan Lengkap

Pada dasarnya, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) tidak mengatur mengenai pencabulan pada orang yang sedang tidur. Akan tetapi, dalam Pasal 290 ke-1 KUHP diatur mengenai pencabulan yang dilakukan terhadap orang yang pingsan atau tidak berdaya.

 
Pasal 290 KUHP:

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

1.    barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;

2.    barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umumnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin;

3.    barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.”

 

Terkait pasal ini, R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, menjelaskan mengenai yang dimaksud dengan “perbuatan cabul” dengan merujuk pada penjelasannya dalam Pasal 289 KUHP dan tentang “pingsan” atau “tidak berdaya” dengan merujuk pada penjelasannya dalam Pasal 89 KUHP.

 

Menurut R. Soesilo, yang dimaksud dengan “perbuatan cabul” ialah segala perbuatan yang melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkupan nafsu birahi kelamin, misalnya: cium-ciuman, meraba-raba anggota kemaluan, meraba-raba buah dada, dan sebagainya.

 

Yang dimaksud dengan “pingsan”, menurut R. Soesilo, artinya “tidak ingat atau tidak sadar akan dirinya”, umpamanya memberi minum racun kecubung atau lain-lain obat, sehingga orangnya tidak ingat lagi. Orang yang pingsan itu tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi akan dirinya. Sedangkan, yang dimaksud dengan “tidak berdaya” adalah tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali, sehingga tidak dapat mengadakan perlawanan sedikitpun, misalnya mengikat dengan tali kaki dan tangannya, mengurung dalam kamar, memberikan suntikan, sehingga orang itu lumpuh. Orang yang tidak berdaya itu masih dapat mengetahui apa yang terjadi atas dirinya.

 

Akan tetapi, berdasarkan penelusuran kami, ada pasal KUHP lain yang digunakan untuk menutut seseorang yang melakukan perbuatan meraba-raba kelamin korban saat korban sedang tidur, yaitu Pasal 281 ayat (1) KUHP sebagaimana dapat dilihat dalam Putusan Pengadilan Negeri Sumber No. 434/Pid.B/2011/PN.Sbr.

 

Pasal 281 ayat (1) KUHP:

Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:

1.    barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan;

2.    barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ bertentangan dengan kehendaknya, melanggar kesusilaan.”

 

Dalam perkara tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam Putusan, terdakwa bersama dengan korban dan 2 (dua) orang saksi (Saksi I dan Saksi II) bermaksud berbelanja bahan dagangan di Jakarta dengan menumpang di atas kendaraan truk dikemudikan oleh seorang saksi lainnya (Saksi III). Pada saat korban, Saksi I dan Saksi II sedang tertidur, terdakwa dengan penerangan korek api, membuka kain yang dikenakan oleh korban, kemudian terdakwa meraba-raba kemaluan dan paha korban. Hal tersebut dilihat oleh Saksi I dan Saksi II, yang baru melaporkan kepada korban sesampainya di Jakarta. Atas perbuatannya tersebut, terdakwa dipidana berdasarkan Pasal 281 ayat (1) KUHP dan dijatuhi hukuman pidana penjara selama 3 (tiga) bulan dan 15 (lima belas) hari.

 

Mengenai Pasal 281 KUHP ini sendiri, R. Soesilo (Ibid), sebagaimana kami sarikan, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kesopanan yaitu dalam arti kata kesusilaan, perasaan malu yang berhubungan nafsu kelamin misalnya bersetubuh, meraba buah dada perempuan, meraba tempat kemaluan wanita, memperlihatkan anggota kemaluan wanita atau pria, mencium, dan sebagainya. Pengrusakan kesopanan ini semuanya dilakukan dengan perbuatan. Sifat merusak kesusilaan perbuatan-perbuatan tersebut kadang-kadang amat tergantung pada pendapat umum pada waktu dan tempat itu.

 

Jadi, pada dasarnya perbuatan tersebut dapat dihukum berdasarkan Pasal 281 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Atau jika perbuatan tersebut dilakukan pada saat korban sedang pingsan atau tidak berdaya, maka dapat dipidana berdasarkan Pasal 290 ke-1 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun.

 

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 
Dasar Hukum:

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

 
Putusan:

Putusan Pengadilan Negeri Sumber No.434/Pid.B/2011/PN.Sbr.

 

Referensi:

R. Soesilo. 1991. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Politeia – Bogor.